Sabtu, 10 Januari 2015

Sampai Kapan

Kau menahan hatimu agar tak mudah terjatuh
Namun hatimu terlalu sunyi untuk menerimanya
Kau pernah ingin berlari
Namun ada sesuatu yang menjeratmu
Kau pernah ingin menjauh
Namun ada sesuatu yang menenggelamkanmu
Sesungguhnya kau telah bosan dengan kesunyianmu
Dan luka yang dibawanya
Tapi kau masih saja menahannya
Itu kenyataannya
Entah apa yang ada di fikiranmu
Mengapa terlalu takut untuk menghancurkan sunyimu
Apa yang kau takuti?
Kau sendiri bertanya dan mencari jawabnya
Kau cari diantara ingatanmu yang telah kau lupakan
Namun yang kau temui hanyalah ilusi
Hingga kau menyerah
Lalu kembali ke peraduan, sendiri, dan menangis
Kala mentari menampakkan wajahnya
Kau ubah rona wajahmu dengan senyuman
Seakan bahagia selalu mengiringi
Seraya selalu berdoa dalam setiap jengkal tawamu
Agar airmata senantiasa diam bersembunyi di bilik hati
Tak pernah menampakkan wajahnya yang selalu sendu
Namun tatkala sang surya telah pergi
Kau mulai membuka topengmu
Kau tuliskan sajak-sajak tentang sepi dan patah hati
Kini, ijinkan aku bertanya
Sampai kapan kau berjalan di jalan ini?
Sampai kapan kau siksa batinmu seperti ini?

Malang, 10-01-2015 10:00

Mimpi

Rindu... Selayaknya buih-buih samudera Membasuh hati nan gersang Meski perih namun senantiasa terlamunkan Mengapa rindu? Mengapa tampak...