Rindu...
Selayaknya buih-buih samudera
Membasuh hati nan gersang
Meski perih namun senantiasa terlamunkan
Mengapa rindu?
Mengapa tampak ia dalam ilusi?
Akhirnya, terjerumus ia di alam mimpi
...
Pilu...
Masa yang telah berpulang itu nyatanya pulang
Membawa harapan yang telah lama terpendam
Menjulang rindu yang lama terabaikan
...
Ah...
Andai dia tau
Terlalu lama aku tiada menoreh kidung
Dan hadirnya sebuah roman dalam delusi petang tadi
Ajariku torehkan kembali kidung-kidung sederhana
...
Pujangga...
Mungkinkah ia mendengar erangan rasa?
Yang hampa kehilangan kata?
Tulungagung, 30-09-2017 07:50
Sabtu, 30 September 2017
Sepatu
Melangkahlah...
Biarkan aku yang lindungimu
Dari terik mentari
Dari gigil malam yang dingin
Melangkahlah...
Meski aku selalu terinjak
Dan seringkali terlupa
Aku kan setia iringi sepanjang langkah
Tetap ikhlas terluka
Demi lindungi engkau, penopang jasad
Aku...
Tak pernah berharap musim tiada menyakiti
Tak pernah berhasrat masa tiada mengoyak nurani
Aku hanya berdoa
Agar aku dapat bertahan hingga kau sampai
Ke tempat bahagiamu bersemayam
Trenggalek, 21-09-2017 21:02
Biarkan aku yang lindungimu
Dari terik mentari
Dari gigil malam yang dingin
Melangkahlah...
Meski aku selalu terinjak
Dan seringkali terlupa
Aku kan setia iringi sepanjang langkah
Tetap ikhlas terluka
Demi lindungi engkau, penopang jasad
Aku...
Tak pernah berharap musim tiada menyakiti
Tak pernah berhasrat masa tiada mengoyak nurani
Aku hanya berdoa
Agar aku dapat bertahan hingga kau sampai
Ke tempat bahagiamu bersemayam
Trenggalek, 21-09-2017 21:02
Hati Yang Segara
Hati ini selaksa lautan
Terlihat indah dari jauh
Namun luka jadikan ia bergemuruh
...
Tangisku,
Sendirian ia terdampar lelah
Sedang kata,
Telah lenyap
Tergerus arus kesepian
Dan debur ombak yang memecah senyap
...
Diantara alun yang menggulung
Sayup sayup terdengar
Symphoni mengalun sendu pilu
Senada gelisah hati kian mencekam
Tangisku terdiam membisu
Kesepian terasa semakin menakutkan
Bromo, 16-07-2017
Terlihat indah dari jauh
Namun luka jadikan ia bergemuruh
...
Tangisku,
Sendirian ia terdampar lelah
Sedang kata,
Telah lenyap
Tergerus arus kesepian
Dan debur ombak yang memecah senyap
...
Diantara alun yang menggulung
Sayup sayup terdengar
Symphoni mengalun sendu pilu
Senada gelisah hati kian mencekam
Tangisku terdiam membisu
Kesepian terasa semakin menakutkan
Bromo, 16-07-2017
Berpendar
Kala sepi mulai terabaikan
Keluh kesah semakin meraja
Dan segala riuh dunia sakiti kepala
Saat itu, puisi berubah haluan
...
Sesekali,
Kukunjungi kota bernama "kenangan"
Kuziarahi "masa lalu"
Seraya menangis
Ceritakan perih hati yang dilukai waktu
Trenggalek, 05-06-2017 16:55
Keluh kesah semakin meraja
Dan segala riuh dunia sakiti kepala
Saat itu, puisi berubah haluan
...
Sesekali,
Kukunjungi kota bernama "kenangan"
Kuziarahi "masa lalu"
Seraya menangis
Ceritakan perih hati yang dilukai waktu
Trenggalek, 05-06-2017 16:55
Sepotong Sajak Pengantar Kepergian
... Untukmu, yang terkasih
Nanti
Bila kau pergi
Luka perpisahan itu tak kan jadi satu yang abadi
Namun canda tawa di setiap detik
Adalah kenangan yang paling menyakiti
...
Mungkin kan kau abaikan
Mungkin kan kau lupa
...
Tapi ingatlah
Namamu kan selalu kurapalkan
Pada seluruh doa yang mengangkasa
...
Trenggalek, 01-06-2017 23:18
Nanti
Bila kau pergi
Luka perpisahan itu tak kan jadi satu yang abadi
Namun canda tawa di setiap detik
Adalah kenangan yang paling menyakiti
...
Mungkin kan kau abaikan
Mungkin kan kau lupa
...
Tapi ingatlah
Namamu kan selalu kurapalkan
Pada seluruh doa yang mengangkasa
...
Trenggalek, 01-06-2017 23:18
Jatuh Cinta, Aku Pada Sajak
Kau tau, mengapa aku mencinta sajak?
Kau tau, mengapa aku mengagumi puisi?
Adalah perihal paling indah darinya;
Aksara demi aksara yang terangkai tiada pernah menghakimi kala kuberkesah
Dan puisi, tiada pernah menyakiti
Namun kini, aku butuh seuntai senyuman,
Tuk lengkapi sajak sajak yang rumpang
Aku butuh sekeping tawa,
Tuk menyulam benang-benang puisi
Trenggalek, 13-04-2017
Kau tau, mengapa aku mengagumi puisi?
Adalah perihal paling indah darinya;
Aksara demi aksara yang terangkai tiada pernah menghakimi kala kuberkesah
Dan puisi, tiada pernah menyakiti
Namun kini, aku butuh seuntai senyuman,
Tuk lengkapi sajak sajak yang rumpang
Aku butuh sekeping tawa,
Tuk menyulam benang-benang puisi
Trenggalek, 13-04-2017
Senja... Masihkah Kau...
Senja...
Masihkah kau menjadi penyembuh luka?
Kala hati yang telah bahagia tiba tiba tergores dan terluka lagi?
Kala tawa yang telah kutemukan tiba tiba kembali sirna?
Senja...
Masihkah kau mau menopang sebuah lengan,
Ketika langkah yang tegap tiba-tiba terjatuh dan pincang?
Masih maukah kau menjadi sebuah bahu untukku meratap,
Ketika belati tiba-tiba menghunjam batin?
Tulungagung, 04-02-2017 17:32
Masihkah kau menjadi penyembuh luka?
Kala hati yang telah bahagia tiba tiba tergores dan terluka lagi?
Kala tawa yang telah kutemukan tiba tiba kembali sirna?
Senja...
Masihkah kau mau menopang sebuah lengan,
Ketika langkah yang tegap tiba-tiba terjatuh dan pincang?
Masih maukah kau menjadi sebuah bahu untukku meratap,
Ketika belati tiba-tiba menghunjam batin?
Tulungagung, 04-02-2017 17:32
Selasa, 14 Maret 2017
Sajak Sajak Pendek 2017
Tuan
Kumohon
Jangan membuatku membenci cinta; Yang tak tau apa apa tentang lukaku
Trenggalek, 1 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Selalu
Di setiap hariku
Mendung selimuti hatiku
Hujan basahi puisiku
Meski tahun tahun telah berlalu
Terimakasih
Duhai engkau yang telah mengabadikan ribuan untaian kata manusia yang menjatuhkan cintanya pada puisi
Semoga abadi
Hanya berpisah tempat
Mengapa menjadikan luka?
Hanya terpisah jarak
Mengapa menimbulkan airmata?
Untukmu sahabat baruku
Mengapa harus ada kata pisah?
Untukmu ibu keduaku
Bagaimana cara merelakan sebuah kepergian?
...
Sejuta hiburan dari rintik hujan tiada lagi bermakna
Karena kini
Tiada lagi tawa
Tiada lagi canda
Tiada lagi kasih sayang
...
Padahal baru kemarin aku merengek manja
Tapi kini aku menangis
Pedih
Begitu terluka
Tajamnya belati perpisahan begitu tega menghunjam dada
Di setiap hariku
Mendung selimuti hatiku
Hujan basahi puisiku
Meski tahun tahun telah berlalu
Trenggalek, 2 Jan 2017
__________________________________________________________________________________
Hati ini selaksa tulang belulang Homo floresiensis;
Begitu rapuh meski telah lama membatu
Trenggalek, 5 Jan 2017
__________________________________________________________________________________
Tiba tiba aku membenci hujan
Yang menambah dingin hati yang menanti pelukan
Trenggalek, 5 Jan 2017
__________________________________________________________________________________
Trenggalek, 6 Jan 2017
_________________________________________________________________________________Hanya berpisah tempat
Mengapa menjadikan luka?
Hanya terpisah jarak
Mengapa menimbulkan airmata?
Untukmu sahabat baruku
Mengapa harus ada kata pisah?
Untukmu ibu keduaku
Bagaimana cara merelakan sebuah kepergian?
...
Sejuta hiburan dari rintik hujan tiada lagi bermakna
Karena kini
Tiada lagi tawa
Tiada lagi canda
Tiada lagi kasih sayang
...
Padahal baru kemarin aku merengek manja
Tapi kini aku menangis
Pedih
Begitu terluka
Tajamnya belati perpisahan begitu tega menghunjam dada
Tulungagung, 7 Jan 2017
__________________________________________________________________________________
Diantara mereka yang jatuh cinta, aku merasa sendiri
Diantara mereka yang saling mencinta, aku merasa sepi
Dan kini aku cemburu
Trenggalek, 8 Jan 2017
__________________________________________________________________________________
Di bagian hati mana lagi kan kusembunyikan
Hati yang terluka
Luka yang telah menganga
Trenggalek, 8 Jan 2017
__________________________________________________________________________________
Pujangga
Seduhkan aku puisi
Tentang rasa yang tak mampu kuucap
Tentang dia yang mematikan hatiTrenggalek
Trenggalek, 8 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Kekasih
Maukah kau menjemputku?
Aku tersesat
Tersesat di jalan yang benar
Trenggalek, 9 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Tiada yang mengajariku derita
Tiada pula yang mengajakku bahagia
Sungguh, aku merana
Trenggalek, 9 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Hadirmu
Bangkitkan kembali mimpiku yang tela lama mati;
Tentangmu
Trenggalek, 10 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Duhai hujan...
Senandungkanlah lagu lagu penghibur pilu hati yang dirundung sepi ini...
Trenggalek, 11 Jan 2017
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
Pada akhirnya...
Setiap hati yang pernah terluka ingin merasakan jatuh cinta
Trenggalek, 13 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Sampai kapan selalu seperti ini?
Lihatlah, puisi puisiku penuh dengan luka
Trenggalek, 15 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Hati ini mudah pecah
Tak mau lagi jatuh ke tempat yang salah
Namun jiwa ini juga lelah
Meyakinkan sunyi yang semakin resah
Trenggalek, 15 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Terkadang...
Cinta lebih memilih untuk berdiam diri, menyendiri, lalu berpuisi
Trenggalek, 15 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Kemana kan kucari bayanganmu yang menghilang?
Sungguh, aku kesepian
Trenggalek, 15 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Anakku
Meski kau tak lahir dari rahimku
Tapi setiap hari akulah yang melihat tawa-tangismu
Kini, tlah jatuh cintaku padamu
Trenggalek, 17 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Kau ingatkanku akan rasa kecewa,
Pada rasa bersalah,
Yang meski telah kutebus
Namun tak mampu kulupa dan kumaafkan
Trenggalek, 19 Jan 2017
_______________________________________________________________________________
Maha Pengampun, bantu aku menghapus airmata penyesalan yang mengalir di dinding waktu-ku
Trenggalek, 20 Jan 2017
________________________________________________________________________________
Akankah
Penantian kan berakhir indah?
Seindah kuncup bunga bermandikan bulir-bulir hujan
Trenggalek, 20 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Kesedihanmu
Melenyapkan kata kataku
Membungkam bibirku
Melukai hatiku
Trenggalek, 21 Jan 2017
_______________________________________________________________________________
Jika kau dilukai, marahlah
Jika kau terluka, menangislah
Sesekali, menjadi beranilah
Trenggalek, 22 Jan 2017
_______________________________________________________________________________
Cinta bukan perkara memilih siapa yang melukaimu
Tapi perkara memilih siapa yang datang dan tak pernah pergi darimu
Trenggalek, 22 Jan 2017
_______________________________________________________________________________
Ketika senja tak lagi membawakan puisi yang kupesan
Ketika kata tak lagi mau kurangkai
Ketika itulah aku benar-benar terluka
Ketika kata tak lagi mau kurangkai
Ketika itulah aku benar-benar terluka
Trenggalek, 22 Jan 2017
________________________________________________________________________________
Jangan jatuhkan hatimu lagi, pujangga
Meski luka adalah puisimu, tapi semesta telah bosan mencium amis luka hatimu
Trenggalek, 23 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Sang waktu, ajari aku sabar menanti kedatangannya yang belum pasti
Trenggalek, 23 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Apa kabar kau disana?
Hari ini ingin menyapamu namun tak kuasa
Akhirnya aku berpuisi tuk ungkapkan rindu yang menyiksa
Tulungagung, 24 Jan 2017
________________________________________________________________________________
Rindu tak kan hilang
Sepi tak kan sirna
Meski tetes hujan dan semburat senja menghiburku
Trenggalek, 24 Jan 2017
________________________________________________________________________________
Kurangkai kata kata dengan jarum kesedihan
Lalu kutuliskan menjadi sebait puisi dengan tinta airmata
Trenggalek, 24 Jan 2017
________________________________________________________________________________
Mengapa aku tak kuasa mempuisikan kesedihannya?
Luka itu begitu menyakitiku, hingga tak ada satu pun puisi mampu tercipta
Jogjakarta, 25 Jan 2017
________________________________________________________________________________
Tuan,
Masihkah kau menciptakan nada-nada lagumu,
Seperti aku yang masih setia menuliskan syair-syair puisiku untukmu?
Jogjakarta, 26 Jan 2017
_________________________________________________________________________________
Senin, 13 Maret 2017
Sajak sajak pendek 2016
_________________________________________________________________________________
Menangislah...
Biar hujan yang menyeka airmatamu
Menjeritlah...
Biar halilintar samarkan suaramu
Tapi nanti,
Tersenyumlah meski perih...
Biarkan orang yang kau sayangi melihat bahagiamu
Menangislah...
Biar hujan yang menyeka airmatamu
Menjeritlah...
Biar halilintar samarkan suaramu
Tapi nanti,
Tersenyumlah meski perih...
Biarkan orang yang kau sayangi melihat bahagiamu
Tulungagung, 24 Okt 2016
__________________________________________________________________________________
... Ketika hujan malam ini tak membawakanku rindu
Trenggalek, 31 Okt 2016
Trenggalek, 3 Des 2016
Kujadikan tempat sampah atas segala resah
Sekali lagi.
Malang, 11 Des 2016
_________________________________________________________________________________
Trenggalek, 12 Des 2016
Aku hanya lelah
Berpura bahagia, padahal duka
Berpura tertawa, padahal luka
Menyembunyikan tangis dalam gelak tawa
Menceritakan resah dengan lagu yang kunyanyikan
Trenggalek, 18 Des 2016
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
Masih disini
________________________________________________________________________________
Kamu dan aku yang berbeda; di dalam ibadahKenangan kita; di dalam ingatan
Rindu; di dada
Trenggalek, 25 Des 2016
_________________________________________________________________________________
Rinduku padamu pun akan terendap lagi seiring berakhirnya natal ini
Trenggalek, 25 Des 2016
_________________________________________________________________________________
Menunggu, tanpa tau kapan bertemu
Berpura menyepi padahal hati merintih karena pilunya sepi.
Berpura menyepi padahal hati merintih karena pilunya sepi.
_________________________________________________________________________________
Trenggalek, 26 Des 2016
________________________________________________________________________________
Trenggalek, 26 Des 2016
_______________________________________________________________________________
Trenggalek, 26 Des 2016
_______________________________________________________________________________
Ijinkan
Ijinkan aku menulis lagi
Diiringi lagu sedih
Dan musik yang melankolis
Dengan tempo yang lambat
Dan nada yang tinggi
Tidak... Tidak...
Aku tak akan menulis tentang siapapun
Tentang siapa saja yang pernah tinggal di serambi hati
Bukan...
Bukan tentang mereka
Percuma
Buang buang tenaga
Singkat saja
Akan kutulis semua yang kurasa
Semuanya
Dalam seuntai kata
"Terlalu lelah bertahan dalam kesendirian, kesunyian, dan penantian panjang ini..."
Diiringi lagu sedih
Dan musik yang melankolis
Dengan tempo yang lambat
Dan nada yang tinggi
Tidak... Tidak...
Aku tak akan menulis tentang siapapun
Tentang siapa saja yang pernah tinggal di serambi hati
Bukan...
Bukan tentang mereka
Percuma
Buang buang tenaga
Singkat saja
Akan kutulis semua yang kurasa
Semuanya
Dalam seuntai kata
"Terlalu lelah bertahan dalam kesendirian, kesunyian, dan penantian panjang ini..."
Trenggalek
16-09-2016 22:49
Kamu
Kau selalu seperti ini
Menggagalkan usahaku yang telah sampai di persimpangan jalan
Hingga harus kuulangi langkahku
Langkah untuk lupakanmu
Jujur
Tak kumengerti maumu
Datang dan pergi sesukamu
Walau harus kuakui
Rindu ini masih milikmu
...
Kala kutatap mendung yang sembunyikan mentari
Kala kucium aroma hujan di tanah yang basah
Kala tengah malam tiba namun kumasih terjaga
Percayakah kau, saat itu aku rindu
Pada ribuan kenangan yang datang membayang
...
Tapi tak perlu kuceritakan rinduku
Karena semua bisa kau temukan
Dalam genang air hujan itu
Dan diantara bintang pada gelapnya malam
...
Kau tak akan pernah mengerti
Pedih batinku
Saat kukabulkan inginmu
Untuk lupakanmu
Menghapus namamu yang telah terukir dalam di hatiku
Membiarkan hatiku terluka
Walau terasa pedih
...
Tapi mengapa
Sekali lagi
Bahkan berulang kali
Kau datang kembali
Kau gagalkan semua usahaku melupakanmu
Tanpa peduli perih hati ini
Menggagalkan usahaku yang telah sampai di persimpangan jalan
Hingga harus kuulangi langkahku
Langkah untuk lupakanmu
Jujur
Tak kumengerti maumu
Datang dan pergi sesukamu
Walau harus kuakui
Rindu ini masih milikmu
...
Kala kutatap mendung yang sembunyikan mentari
Kala kucium aroma hujan di tanah yang basah
Kala tengah malam tiba namun kumasih terjaga
Percayakah kau, saat itu aku rindu
Pada ribuan kenangan yang datang membayang
...
Tapi tak perlu kuceritakan rinduku
Karena semua bisa kau temukan
Dalam genang air hujan itu
Dan diantara bintang pada gelapnya malam
...
Kau tak akan pernah mengerti
Pedih batinku
Saat kukabulkan inginmu
Untuk lupakanmu
Menghapus namamu yang telah terukir dalam di hatiku
Membiarkan hatiku terluka
Walau terasa pedih
...
Tapi mengapa
Sekali lagi
Bahkan berulang kali
Kau datang kembali
Kau gagalkan semua usahaku melupakanmu
Tanpa peduli perih hati ini
Trenggalek, 17-12-2014 09.55
Minggu, 12 Februari 2017
Ini Ceritaku
Saat kubuka mataku
Kau bersiap tuk beranjak pergi
Saat kilatan mentari terasa menyengat rambutku
Dan aku telah larut dalam mimpiku
Engkau baru hadir
Saat bintang bintang mulai menampakkan sinarnya
Dan aku bersiap untuk menunjukkan rangkaian kata ini
Engkau lelah, merebahkan diri, lalu terlelap
Akhirnya...
Aku hanya bisa tersenyum dalam sunyi
Mencoba menghibur diri
Jalani apa yang memang selalu kujalani
Jalani hal hal yang sama sejak aku mulai belajar merasa
Mulai belajar menyimpan apa yang kurasa
...
Dan aku bukanlah eorang pemberontak sadis
karena kusadari
Semua itu kau lakukan untukku
Hanya terkadang
Pertahanan hatiku pada rasa ini runtuh
Lalu mengalirlah airmata yang ia sembunyikan
Kau bersiap tuk beranjak pergi
Saat kilatan mentari terasa menyengat rambutku
Dan aku telah larut dalam mimpiku
Engkau baru hadir
Saat bintang bintang mulai menampakkan sinarnya
Dan aku bersiap untuk menunjukkan rangkaian kata ini
Engkau lelah, merebahkan diri, lalu terlelap
Akhirnya...
Aku hanya bisa tersenyum dalam sunyi
Mencoba menghibur diri
Jalani apa yang memang selalu kujalani
Jalani hal hal yang sama sejak aku mulai belajar merasa
Mulai belajar menyimpan apa yang kurasa
...
Dan aku bukanlah eorang pemberontak sadis
karena kusadari
Semua itu kau lakukan untukku
Hanya terkadang
Pertahanan hatiku pada rasa ini runtuh
Lalu mengalirlah airmata yang ia sembunyikan
Trenggalek, 05-09-2014 07:07
Saat Aku Terlambat Menyadari
Aku yang bodoh
Tak pernah tau arti ungkapanmu
Tak pernah mengerti bahasa kalbumu
Maaf
Jika aku terlambat menyadari
Penantianmu
Dan kesabaranmu yang ada batasnya
Untukmu kini kuceritakan
Tentang jutaan penyesalan yang tak mungkin kau terima
Tentang ribuan barel airmata yang pasti kau tertawai
Namun, biarkan airmata ini menghiburku
Saat kumengerti tentang arti pesan yang sengaja kau sematkan
Pada sebuah halaman yang dengan mudah terbaca olehku
Tapi percayalah...
Sampai puisi ini kutulis
Hingga kelak kau berkenan membacanya
Bahkan berkali-kali kau baca
Ingatlah...
Jiwa ini akan selalu menyayangimu
Tak pernah tau arti ungkapanmu
Tak pernah mengerti bahasa kalbumu
Maaf
Jika aku terlambat menyadari
Penantianmu
Dan kesabaranmu yang ada batasnya
Untukmu kini kuceritakan
Tentang jutaan penyesalan yang tak mungkin kau terima
Tentang ribuan barel airmata yang pasti kau tertawai
Namun, biarkan airmata ini menghiburku
Saat kumengerti tentang arti pesan yang sengaja kau sematkan
Pada sebuah halaman yang dengan mudah terbaca olehku
Tapi percayalah...
Sampai puisi ini kutulis
Hingga kelak kau berkenan membacanya
Bahkan berkali-kali kau baca
Ingatlah...
Jiwa ini akan selalu menyayangimu
Trenggalek, 04-09-2014 19:38
Ketika Hati Telah Sekarat
Aku pernah tetap berjalan
Mengikuti paksaan samar sang angin
Tanpa kudengar jeritan hati
Dan setelah aku diujung jalan
Mengharap bimbingan hati
Baru kusadari
Baru kutengok
"Apa kabar hatiku?"
Sayangnya ia telah letih menangis
Tak lagi sanggup membimbing
Jangankan membimbing
Mengurus lukanya yang telah membusuk pun tak sanggup
Akhirnya kuberjalan tanpa hati
Hati yang telah sekarat itu tak mampu lagi menemaniku melangkah
Berat, sungguh berat
Berjalan di jalan yang tak kutau
Jalan yang tak kumau
Sendiri, tanpa ada yang memahami
Mengikuti paksaan samar sang angin
Tanpa kudengar jeritan hati
Dan setelah aku diujung jalan
Mengharap bimbingan hati
Baru kusadari
Baru kutengok
"Apa kabar hatiku?"
Sayangnya ia telah letih menangis
Tak lagi sanggup membimbing
Jangankan membimbing
Mengurus lukanya yang telah membusuk pun tak sanggup
Akhirnya kuberjalan tanpa hati
Hati yang telah sekarat itu tak mampu lagi menemaniku melangkah
Berat, sungguh berat
Berjalan di jalan yang tak kutau
Jalan yang tak kumau
Sendiri, tanpa ada yang memahami
Trenggalek, 01-09-2014 15:20
Langganan:
Komentar (Atom)
Mimpi
Rindu... Selayaknya buih-buih samudera Membasuh hati nan gersang Meski perih namun senantiasa terlamunkan Mengapa rindu? Mengapa tampak...
-
Ceritakan lukamu pada linang airmata tiada cinta yang percuma Jeritkan kecewamu pada sepotong hati yang senantiasa merasakan Lalu... Gore...
-
Saat kubuka mataku Kau bersiap tuk beranjak pergi Saat kilatan mentari terasa menyengat di rambutku Dan aku telah larut dalam mimpiku En...
-
Dingin pagi ini begitu menusuk Tapi aku harus bangun dan tetap berjalan Karena sang waktu tak mungkin menunggu Begitu pula dengan hatiku ...