Biarlah aku bahagia dengan caraku, cara yang ta akan menyakiti kebahagiaanmu
Biarlah aku bahagia, dalam ingatanku
Jika ketiadaanku adalah kebahagiaanmu, biarlah aku menjadi sesuatu yang paling mudah kau lupakan dalam hidupmu
Ada yang lebih murung dari pagi ini
Ialah selarik puisi, yang tak pernah tahu, untuk apa ditulis jika menyakiti
Jika senja tak lagi mampu menyampaikan indah sinarnya
Kebahagiaan apalagi yang kan kuterima
Asa kian mendera tajam menghayati luka
Malang, 27-07-2014 08:08
( Puisi ini ditulis oleh sahabatku, Ginanjar Bagus Bekti Ibrahim. Jika ingin mengenal dia dan puisi-puisinya lebih lanjut, kunjungi Anjar di @Anjar945 )
Minggu, 27 Juli 2014
Sabtu, 26 Juli 2014
Aku Tak Suka
Lalu pada siapa kuceritakan
Kekesalanku, kebencianku, dan semuanya yang menyedihkan?
Saat yang seharusnya mendengar membuatku sakit, malu, marah, dan kecewa
Akhirnya aku memilih untuk diam
Seraya menatap mata pohon-pohon yang menertawai
Aku tak ingin peduli
Tapi kupunya mata tuk melihat senyum sinis mereka
Punya telinga tuk mendengar bisikan sadis mereka
Dan punya hati tuk merasai tawa ejek mereka
Mencoba membiarkan tapi hati tak seirama
Akhirnya aku belajar melupakan
Argh..... Mengapa aku dilahirkan menjadi peka?
Menjadi perasa?
Kaku, kaku, kaku
Kaku ya?
Iya kaku
Maaf, aku hanya mencuapkan kekesalanku
Hingga tak sempat menebarkan syair-syair merdu
Tak sempat mengajari bahasaku menari meliuk-liuk
Trenggalek, 25-07-2014 23:25
Kekesalanku, kebencianku, dan semuanya yang menyedihkan?
Saat yang seharusnya mendengar membuatku sakit, malu, marah, dan kecewa
Akhirnya aku memilih untuk diam
Seraya menatap mata pohon-pohon yang menertawai
Aku tak ingin peduli
Tapi kupunya mata tuk melihat senyum sinis mereka
Punya telinga tuk mendengar bisikan sadis mereka
Dan punya hati tuk merasai tawa ejek mereka
Mencoba membiarkan tapi hati tak seirama
Akhirnya aku belajar melupakan
Argh..... Mengapa aku dilahirkan menjadi peka?
Menjadi perasa?
Kaku, kaku, kaku
Kaku ya?
Iya kaku
Maaf, aku hanya mencuapkan kekesalanku
Hingga tak sempat menebarkan syair-syair merdu
Tak sempat mengajari bahasaku menari meliuk-liuk
Trenggalek, 25-07-2014 23:25
Jumat, 25 Juli 2014
Tentang Aku
Tentang rasa dan asa
Tentangmu yang tak kutau
Tentang cinta yang tak pernah kurasa
Tentang penantian yang tak berujung
Tentang harapan yang tak sirna
Tentang doa yang tak pernah putus
Tentang sunyi yang selalu menemani
Tentang syukur yang sulit terucap
Tentang Tuhan yang selalu mengasihi
Tentang hujan yang melambungkan imaji
Tentang puisi yang menjadi saksi
Dan tentang semuanya
Tentang aku. . .
Trenggalek, 25-07-2014 02:00
Hujan Tengah Malam
Diluar dingin, sayang...
Hujan sedang turun dengan lebatnya
Lalu mengapa kau malah menggeliat bangun?
Apa yang ingin kau tau?
Bagaimana dingin menyentuh tubuhmu?
Ataukah
Bagaimana hujan membangunkan tanah yang terlelap?
Aduh, sayang...
Kutau kau membenci dingin
Tapi aku juga paham
Akan rindumu pada hujan
Jadi kubiarkan kau mengerjap
Kubiarkan sayap-sayap imajimu meliuk menari-nari
Asal kau membawa serta kesunyianmu
Dan mengenalkannya pada hujan yang berderai
Trenggalek, 25-07-2014 01:25
Terbangun di Tengah Malam
Detak jam sengaja membangunkanku
Seolah mengajariku mencumbui udara tengah malam ini
Dingin, basah, dan melambungkan imaji
Menyeretku pada fikiran yang entah
Memaksaku menggoreskan penaku
Merangkai kuncup kata
Yang datang bersama dentang yang memecah sunyi
Bersama dingin yang menggerayangi kaki
Ah, sial . . .
Kulihat kicauan yang akhirnya membuyarkanku
Membelokkan bayangan yang tercipta
Mengembalikan sebuah rasa yang sia-sia
Lalu kini apa yang kutulis?
Saat kata-kata itu kembali menguap
Trenggalek, 24-07-2014 01:04
Saat Angin Dan Mendung Menggelisahkan
Mengapa hati ini gelisah?
Seakan membawaku pada kata yang fasih
Yang bertitel rindu
Tapi pada siapa kumerindu?
Telah kucari nama-nama itu pada nisan hatiku
Kugali bayang-bayang itu pada makam ilusiku
Kurasai satu per satu
Tapi ternyata tak satupun dari mereka
Lalu siapa lagi
Yang menyeretku pada deru rindu
Mengapa dia mengirimkan hadiah yang kusuka?
Darimana dia tau
Aku menyukai datangnya mendung dan angin?
Aih, kelihatannya Tuhan sedang mengerjaiku
Ya sudahlah Tuhan, aku pasrah
Aku percaya rencana-Mu indah bagiku
Trenggalek, 23-07-2014 12:27
Ceritaku Pada Dewi Malam
Oh Dewi Malam
Ijinkan aku menguntai kisah
Tentang rasa rindu yang tiba-tiba menyesakkan
Tapi bagaimana
Bagaimana aku memulai
Bukankah kisah tentang rindu itu telah kusemai sejak lama
Lalu apa lagi
Bagaimana lagi agar kau tak bosan
Mendengarku menjeritkan namanya
Jeritan yang hanya aku, engkau dan Tuhan yang mendengar
Aduh...
Bagaimana aku menyambungkan pantai dalam kisahku?
Pantai?
Ya, pantai
Aku ingat bagaimana kami menjadikannya kicauan mesra
Dan kini aku merindunya
Oh Dewi Malam
Pahamkah kau pada rinduku ini?
Trenggalek, 23-07-2014 00:07
Biarkan Aku
Kau menangis
Akupun menangis
Tapi tangisan itu tak sama
Air matamu mengalir karena kekejamanku
Dan kutangisi rasa yang kunikmati lukanya sendiri
Tak usah kau tahu apa yang kutangisi
Percuma saja kau tahu
Bukankah nantinya aku hanya akan kau ajarkan
Sesuatu yang telah kau pelajari?
Jadi biarkan aku
Menangis dalam diamku
Menjerit dalam laguku
Biarkan kepala ini bersandar
Dimana ia ingin bersandar
Biarkan kucari tahu sendiri
Sesuatu yang tak pernah kau rasakan
Karena ku juga tak ingin
Melukaimu dengan kekejianku
Trenggalek, 23-06-2014 22:05
Kamis, 24 Juli 2014
Maaf Telah Meminjam Namamu
Maafkan aku
Aku tak bisa lupakanmu
Aku tak bodoh
Aku hanya tak ingin
Tahukah kau?
Setelah kepergianmu
Beberapa kumbang mencoba menyentuh hatiku
Tapi ku selalu menahan rasaku untukmu
Tak perlu kau tau alasannya
Karena meski kau tau
Kau tak akan mengerti
Percayalah
Suatu hari nanti akan kulepas namamu dari hatiku
Saat Tuhan telah menghadirkan dia
Yang memang ditakdirkan untukku
Maafkan aku
Telah meminjam namamu
Dan menyimpannya di hatiku
Trenggalek, 23-06-2014 13:21
Thank's God
Untung saja hatiku sempat meragu
Ketika dia mendekatiku
Untung saja hatiku belum terjatuh
Saat dia memperhatikanku
Untung saja otakku masih waras
Kala dia menyanjungku
Karena jika tubuhku telah dipenuhi namanya
Dan aku terjatuh pada indah bahasanya
Oh...
Tak bisa kubayangkan
Betapa terlukanya aku
Jadi...
Thank's God
Telah menjaga hatiku dari serpihan cinta yang baru
Telah menjauhkan dari durinya
Telah melarutkan dalam indahnya sayatan sepi
Meyakinkanku pada sebuah cinta yang memang Kau cipta untukku
Yang telah Kau janjikan hadirnya
Dan terimakasih karna Kau selalu menyabarkanku
Pada panjangnya penantian ini
Trenggalek, 21-06-2014 09:30
Gak Penting
Hahaha. . . . .
Mungkin ini adalah untaian kataku yang ke-30
Yang kupatrikan pada buku yang berjasa ini
Walau sebenarnya telah kucipta puluhan puisi lain
Sayangnya hanya berlalu begitu saja
Tanpa sempat kusematkan
Dari puluhan bait itu
Kurasa ada yang aneh
Ah, mungkin karena belum datangnya kemahiran padaku
Tapi sajak-sajak yang lain
Adalah tentang rasaku
Segelintir tentang cinta
Dan sekarung tentang rasa sepi
Aku tak tahu
Apa yang terjadi jika sang pujangga membacanya
Memuji? Atau mencela?
Tapi aku tak peduli
Bagiku itu tak penting
Karena tujuanku mencipta bait demi bait itu
Hanya untuk mengobati luka sepi batinku
Trenggalek, 13-06-2014 13:00
Apa Salah Sepi
Hey...
Mengapa kau menghujat sepi
Bukankah kau yang memintanya untuk hadir
Hey...
Mengapa kau menyalahkan sepi
Bukankah dia sudah meminta izin padamu
Untuk menghujam hatimu
Dan kau mengizinkannya?
Hey...
Mengapa kau tak pernah berterimakasih pada sepi
Bukankah dia yang setia menemani kesendirianmu?
Bukankah dia yang menyelamatkan imajinasimu dari kematian?
Bukankah dia yang mengenalkanmu pada sajak dan syair?
Lalu apa salah sepi?
Mengapa selalu kau sudutkan dia?
Bagai seorang narapidana saja
Bukankah kesetiaannya belum tertandingi?
Hey...
Tak berniatkah kau meminta maaf pada sepi
Yang senantiasa meyakinkanmu akan hadirnya jodohmu suatu hari nanti?
Oh, sepi...
Trenggalek, 13-06-2014 12:21
Mimpi
Untuk sebuah nama yang selalu kutulis
Pagi ini kau hadir di mimpiku
Tak lupa kau bawa seikat merdu suaramu
Yang selalu membuatku tentram
Tapi juga menangis
Bukan menangisi pilu
Tapi menangisi rindu
Terbesit sebuah tanya untukmu
Mengapa kau menyanyikan lagu itu?
Adakah pesan untukku
Yang tersirat diantara lirik dan nadanya?
Tanya itulah yang akhirnya membangunkanku
Membuyarkan wajahmu
Menghilangkan suaramu
Ah, sudahlah
Aku hanya ingin menuliskan sepenggal lirik itu
"Terlarang sudah rinduku padamu"
Trenggalek, 11-06-2014 07:17
Curahan Laraku
Kunikmati sendiri sepiku
Kurasakan sendiri lukaku
Karena...
Tak ada yang peduli
Tak ada yang mengerti
Pedih hati ini
Ah...
Bukankah terlalu sering aku menguntai kata
Tapi tetap saja
Tak ada yang memahami luka sepi ini
Karena memang hanya aku yang rasakan
Bahkan lagupun tak mampu mewakili
Hati yang dilukai rasa sepi ini
Sudah kucoba untuk membunuh sepiku
Akhirnya malah aku yang semakin terluka
Jadi kini kubiarkan saja
Biarlah sepi merajai hatiku
Aku pasrah...
Karena hanya itu yang bisa kulakukan
Diam, tidur, dan menangis
Mungkin itu konyol bagi yang awam hatiku
Hahaha...
Semoga aku tak berubah gila karena kesepian
Trenggalek, 10-06-2014 14:41
Selamat Malam
Selamat malam wahai jiwa yang lelah
Yang tetap melangkah meski ditikam rasa sepi
Yang tetap setia menunggu hadirnya cinta
Meski tak tau kapan cinta itu tiba
Tapi tetap saja
Keyakinanmu akan hadirnya cinta tak pernah pupus
Seperti keyakinan akan hadirnya fajar di hari esok
Keyakinan yang selalu menguatkan hatimu untuk tetap melangkah di tepi jurang sepi
Semoga sang raja malam selalu menghadirkan cerita indah yang terangkai dalam mimpimu
Semoga angin malam senantiasa membisikkan tangisan rindumu pada pangeran hati
Yang bersembunyi di balik dinding takdir
Trenggalek, 24-05-2014 00:17
Belum Ada Judul
Lama sudah tak kugoreskan tinta pada selembar kertas
Memang
Beberapa waktu lamanya hatiku ditemani seorang pangeran
Tapi
Semakin lama semakin kusadari
Pangern itu tidak tercipta untukku
Tapi aku tetap menjaga hatiku agar kelak tak terluka
Akhirnya
Aku kembali tenggelam di lautan sepi
Ditemani lagu yang menyayat hati
Tapi biarlah
Tetap kujalani kesunyian ini
Seraya selalu berdoa dan tak pernah berhenti berharap
Semoga Tuhan kelak mengganti hati yang tersayat sepi ini
Dengan cinta yang lebih indah dari yang selalu kuharapkan
Amin...
Trenggalek, 19-05-2014 11:01
Langganan:
Komentar (Atom)
Mimpi
Rindu... Selayaknya buih-buih samudera Membasuh hati nan gersang Meski perih namun senantiasa terlamunkan Mengapa rindu? Mengapa tampak...
-
Ceritakan lukamu pada linang airmata tiada cinta yang percuma Jeritkan kecewamu pada sepotong hati yang senantiasa merasakan Lalu... Gore...
-
Saat kubuka mataku Kau bersiap tuk beranjak pergi Saat kilatan mentari terasa menyengat di rambutku Dan aku telah larut dalam mimpiku En...
-
Dingin pagi ini begitu menusuk Tapi aku harus bangun dan tetap berjalan Karena sang waktu tak mungkin menunggu Begitu pula dengan hatiku ...