Lalu pada siapa kuceritakan
Kekesalanku, kebencianku, dan semuanya yang menyedihkan?
Saat yang seharusnya mendengar membuatku sakit, malu, marah, dan kecewa
Akhirnya aku memilih untuk diam
Seraya menatap mata pohon-pohon yang menertawai
Aku tak ingin peduli
Tapi kupunya mata tuk melihat senyum sinis mereka
Punya telinga tuk mendengar bisikan sadis mereka
Dan punya hati tuk merasai tawa ejek mereka
Mencoba membiarkan tapi hati tak seirama
Akhirnya aku belajar melupakan
Argh..... Mengapa aku dilahirkan menjadi peka?
Menjadi perasa?
Kaku, kaku, kaku
Kaku ya?
Iya kaku
Maaf, aku hanya mencuapkan kekesalanku
Hingga tak sempat menebarkan syair-syair merdu
Tak sempat mengajari bahasaku menari meliuk-liuk
Trenggalek, 25-07-2014 23:25
Sabtu, 26 Juli 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mimpi
Rindu... Selayaknya buih-buih samudera Membasuh hati nan gersang Meski perih namun senantiasa terlamunkan Mengapa rindu? Mengapa tampak...
-
Ceritakan lukamu pada linang airmata tiada cinta yang percuma Jeritkan kecewamu pada sepotong hati yang senantiasa merasakan Lalu... Gore...
-
Saat kubuka mataku Kau bersiap tuk beranjak pergi Saat kilatan mentari terasa menyengat di rambutku Dan aku telah larut dalam mimpiku En...
-
Dingin pagi ini begitu menusuk Tapi aku harus bangun dan tetap berjalan Karena sang waktu tak mungkin menunggu Begitu pula dengan hatiku ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar