Kamis, 04 Desember 2014

Aku: Sisi Lain di Hari Ulang Tahunmu

Selamat Ulang Tahun
Kata itulah yang kuucapkan hari ini padamu
Seraya melangitkan doa dan pengharapan pada-Nya tentangmu
Hanya
Lidah ini terasa kelu untuk mengucap
Hati ini tak sanggup menerima segala kemungkinan yang mungkin dinyatakan
Akhirnya kupilih tuk mengirim sebuah memo singkat untukmu
Hanya untuk melepas hasratku
Meredakan nyeri rinduku
Tak banyak berharap akan terbalas
Kemungkinan itu sungguh tak ada
Entahlah
Aku tak tau
Yang kutau
Banyak hal yang kusemogakan hari ini
Semoga, semoga, dan semoga
Kusemogakan agar Tuhan memeluk segala harapmu
Kusemogakan bahagia selalu berada di hatimu
Meski bahagiamu bukan aku
Meski kini jarak menjauhkanmu dariku
Meski kini kutau hatimu tak lagi untukku
Meski aku menangis di sisi yang lain dari bahagiamu
Tapi tenanglah
Doa tulusku selalu mengalir
Ku kan tetap tersenyum meski pahit
Karena kusadari
Cinta tak harus memiliki
Hari ini
Tak lupa jua kuucap rasa terima kasihku
Untuk segala waktumu yang pernah kau luangkan untukku
Untuk rasa yang terlalu lama kau pendam dalam diam
Untuk kesetiaanmu menjaga rasa itu
Meski kini tiada lagi semua itu
Tiada lagi waktumu untukku
TIada lagi hatimu untukku
Tiada lagi rasamu untukku
Kusadari itu salahku
Aku yang terlalu terlambat menyadarinya
Aku yang dulu tak pernah pedulikan rasa itu
Dan aku meminta maaf atas semua itu
Sekali lagi kuucapkan
Selamat Ulang Tahun
Untukmu
Anugerah Tuhan yang kini merajai hatiku
Dariku
Orang yang menyadarinya setelah kau pergi

Malang, 04-12-2014 11:30

Rabu, 03 Desember 2014

Mengapa

Harus berapa kali kuulangi?
Harus berapa kali kukatakan?
Harus berapa kali kujeritkan?
Harus berapa banyak kuteteskan airmataku?
Mengapa kau selalu melukai hatiku?
Mengapa?
Mengapa kau selalu membuatku berlinangan airmata?
Mengapa?
Mengapa kau selalu membuatku merasa malas menghadapimu?
Mengapa kau selalu membuatku marah?
Mengapa kau selalu membuatku benci padamu?
Mengapa kau selalu membuatku frustasi?
Mengapa kau SELALU MENYALAHKANKU???
Mengapa kau tak pernah menenangkanku?
Mengapa kau tak pernah memujiku?
Mengapa kau tak pernah menyemangatiku?
Mengapa kau tak pernah mendengarkanku?
Hanya mendengarkan !!!!!
Tidak perlu menyalahkan setelah mendengarkan !
Cukuplah untuk mendengarkan saja !
Setelah itu, paling tidak, puji dan semangatilah !
Jika tak bisa, paling tidak tersenyumlah
Buat aku merasa tenang saat berbicara denganmu
Sudahlah,
Aku tak mau berharap terlalu banyak
Cukup itu saja
Karena kini aku sendiri masih bingung
Aku masih mencari-cari
Aku masih bertanya-tanya
Kemana lagi aku harus bersandar?
Oh,
Apa kau mau membaca tulisanku ini?
Apa kau mengerti maksudnya?
Haruskah aku memprosakan puisi ini?
Dan seandainya kau telah mengerti,
Apa kau akan menyalahkanku lagi???

Malang, 3-12-2014 02:17

Senin, 01 Desember 2014

Kau dan Hujan

Kau
Pergilah jika kau ingin
Jangan pamit
Biarkan aku mendengar kabar tentang kepergianmu dari bisikan air hujan
Agar aku dapat mengikhlaskanmu
Jika kau menanyakan apa alasanku
Mengapa aku memilih hujan ketimbang kau?
Mengapa aku tak ingin mendengar kata pamitmu?
Kau perlu tau
Hujan selalu memelukku dalam derasnya
Meskipun,
Hujan membangkitkan ingatanku akan kenangan masa laluku
Dan saat hujan berhenti
Dia selalu lupa mengajak pergi sang rindu yang dia titipkan padaku
Hingga aku lagi yang harus menanggungnya
Tapi paling tidak
Hujan selalu menjaga perasaanku
Dia tidak datang dan pergi sesuka hatinya
Sedang kau hanya datang semaumu
Meminta maaf lalu pergi sesukamu
Tak kau perdulikan air mata yang menghangatkan pipiku
Yang terasa asin di bibir
Yang menambah perih luka hatiku
Kau bahkan tak menyadari jika kau hanya datang dan pergi begitu saja
Kau tak tau bagaimana aku
Ketika harus bersusah payah melupakanmu
Kau tak peduli bagaimana menderitanya aku
Yang harus mengobati sendiri luka batinku
Seraya harus tetap terus melangkah
Tapi kau selalu begitu
Datang ketika aku telah mampu berjalan tanpamu
Meski tertatih
Pergi disaat aku mulai mengharapmu kembali
Dan selalu meninggalkan luka
Hingga aku selalu bertanya,
"Apa yang sebenarnya ada di otak dan hatimu tentang aku?"

Malang, 01-12-2014 20:22

Senin, 17 November 2014

Lelah

Ketika kekalutan merasuki kalbuku
Entah mengapa kau yang pertama kali kuingat
Saat bebanku terlalu berat untuk kupikul sendiri
Entah mengapa aku selalu ingin bersandar padamu
Sewaktu aku jauh dari Tuhanku
Dan saat itu kudengar sayup-sayup suara panggilan dari langit
Aku merindukanmu
Merindukan suara lembutmu
Tutur katamu yang halus
Yang senantiasa membimbingku kembali ke jalan-Nya
Aku merindukanmu
Sekali lagi kukatakan
Bahkan berkali-kali akan selalu kuucapkan
Kata rinduku padamu
Maafkanku jika pernah menyakiti
Tapi kini aku merindukanmu
Jiwa ini begitu kering tanpamu
Aku merindukanmu
Tanpamu
Aku bagaikan kapal tanpa nahkoda yang terombang ambing di tengah lautan
Aku lelah
Lelah membohongi diri yang seakan aku bisa tanpamu
Lelah meyakinkan hati dengan sebuah kata
"Kau adalah tokoh antagonis bagiku"
Karena nyatanya aku masih merindukanmu
Lalu kini apa yang harus kulakukan
Saat aku merindukanmu seperti ini?
Masih selalu kuingat
Saat kau memintaku melupakanmu
Kala aku berkata "aku merindukanmu"
Tapi aku juga selalu ingat
Kala kau kembali
Disaat aku telah terbiasa bernafas tanpamu
Meski namamu masih samar-samar tertulis di hatiku
Oh,,,, aku tak kan pernah bisa melupakanmu
Karena kau yang selalu mengingatkanku pada Tuhan
Dengan gayamu yang selalu kurindu
Oh Tuhan...........
Apa yang harus kulakukan?
Setiap kali aku mengingat-Mu
Ku selalu teringat akan dia
Apa yang harus kulakukan?
Saat hati ini tentram sekaligus sakit kala teringat akannya?
Aku lelah, Tuhan
Aku lelah...............

Malang, 16-11-2014 20:45

Sabtu, 15 November 2014

Goresan Rinduku

Entahlah
Tapi tiba-tiba aku rindu
Rindu saat bersama
Saat semua serius
Namun masih terdengar gurau dan tawa
Saat semua sibuk
Namun masih sempat bernyanyi bersama
Tak terlihat duka di sudut mata
Yang ada hanya tawa
Tak ada rasa sepi yang terlintas di relung hati
Yang tergambar hanya senyum bahagia
Aku rindu akan masa itu
Masa saat aku tertawa lepas
Masa saat aku benar-benar tersenyum bahagia
Merasakan saat semua ada di sini bersamaku
Ah,
Maaf
Aku hanya mengenang dan terkenang
Akan sesuatu yang kurindu
Sesuatu yang saat ini ingin kurasakan
Ah,
Lagi-lagi terlintas tanya itu
Akankah kau baca goresan penaku ini?
Lalu diam dan merasakan?
Apakah setelah itu kau mengerti?
Akan rindu yang kurasakan?
Dan apakah kau paham?
Apa yang seharusnya kau lakukan?
Agar rinduku ini terobati?
Atau kau malah akan melukai hatiku lagi?
Entahlah
Yang kini kutau
Aku berusaha merangkai kata rindu
Lalu menggoreskannya dengan tinta yang pekat
Ke dalam selembar kertas putih
Setiap huruf yang kutulis
Disaksikan oleh linang airmataku
Entahlah
Akupun tak mengerti apa maksudku
Aku hanya terkenang, mengenang, lalu merindu
Akan sebuah masa. . . . .
Adakah yang salah dengan rinduku ini?

Malang, 15-11-2014 11:22

Rabu, 12 November 2014

Ketika Kekalutan Menghantui

Begitu sunyi
Begitu kalut
Begitu tak tenang
Marah
Mengapa aku marah?
Pada siapa aku harus marah?
Aku tak tau
Menangis
Ha???
Menangis?
Apa yang kutangisi?
Aku tak paham
Cerita
Ah,
Apalagi cerita
Pada siapa aku bercerita?
Apa yang kuceritakan?
Aku tak mengerti
Bosan?
Tidak, tidak
Aku tidak boleh bosan
Aku harus bersabar
Selangkah lagi
Tinggal selangkah lagi
Pintu gerbang itu sudah ada di depan mata
Oh, jadi karena itu kekalutanmu?
Saat kutanyakan itu pada hati kecilku
Dia menjawab,
"Bukan. . . Bukan itu"
Sayangnya dia tak tau apa sebabnya
Meskipun dia tau,
Dia tak yakin,
Apa pengetahuannya benar
Yang kini dia tau
Otakku sedang berfikir
Banyak hal yang dia fikirkan
Seraya menenangkan diri, dia berdoa
"Semoga semua baik-baik saja"

Malang, 12-11-2014 18:00

Sabtu, 01 November 2014

Ini Hati, Bukan Halte

Jangan datang jika kau berniat untuk pergi
Hatiku punya nyawa
Bukan hanya halte
Yang tak pernah merasakan luka meski hanya sebagai tempat persinggahan
Jangan beri aku harapan
Jika aku tak kau ijinkan terlalu jauh mengharapkanmu
Aku sudah lelah menangisimu
Aku bosan menyebut namamu dalam setiap sujudku
Mengapa kau datang?
Mengapa?
Kenapa kau beri aku harapan?
Kenapa?
Lalu mengapa kau pergi lagi?
Katakan
Apa yang kau fikirkan saat kau mendatangiku kala aku telah terbiasa berjalan tanpamu?
Lalu katakan juga
Apa yang ada di fikiranmu saat kau pergi kala aku mulai mengharapmu kembali?
Wahai dentingan hatiku
Dengarkan pintaku
Kumohon
Jangan kau buat hatiku terluka
Jika kau ingin mendatangiku
Dan jangan datang
Jika itu hanya sementara dan membuatku menangis karena merasakan perih di hatiku yang kau lukai
Karena aku wanita
Yang juga punya perasaan
Juga punya harapan
Karena ini hati
Bukan halte

Malang, 01-11-2014 17:45

Saat Kau Datang Kembali

Wahai dentingan hatiku
Mengapa kau menyuruhku pergi saat aku merindukanmu?
Dan mengapa kau hadir kembali saat aku mencoba melupakanmu?
Kau tau, rasa rindu dan benciku padamu begitu menyesakkan dadaku
Aku rindu bersandar padamu
Merasakan tangan lembutmu membimbingku pada jalan-Nya
Mendengarkan suaramu yang begitu menentramkan
Tapi aku benci saat kuingat caramu menyakitiku
Kala aku merinduimu
Hanya saja
Entah mengapa
Aku tetap saja menunggu hadirmu
Rasa rinduku mengalahkan kebencianku padamu
Jujur
Aku masih ingin menyayangimu
Aku ingin kau dan aku seperti dulu
Tapi aku takut akan rinduku
Takut jika rindu ini sia-sia
Takut jika kamu
Orang yang kurindukan
Hanya datang sebentar saja
Lalu begitu lama meninggalkanku dalam kesendirian dan kesunyian yang menyakitkan
Jadi, kumohon katakanlah padaku
Katakan kebenaran dari lubuk hatimu
Sebelum terlalu jauh aku berharap
Sebelum terlalu dalam aku terluka

Malang, 30-10-2014 14:22

Kamis, 16 Oktober 2014

Kisah Klasik Tak Berguna Yang Menyakitkan

Ceritakan lukamu pada linang airmata tiada cinta yang percuma
Jeritkan kecewamu pada sepotong hati yang senantiasa merasakan
Lalu...
Goreskan ceritamu pada selembar buku yang telanjang
Yang suci tak bernoda
Goresan dengan tinta yang pekat
Agar ceritamu abadi
Agar kelak kau tak kehilangan secuil memorimu
Meski itu terasa perih
........
Kini dengarkan aku
Kali ini akan kuuntaikan cerita
Tentang kisah yang tak melulu cinta
Namun,
Tentang kenyataan yang tak sejalan dengan harapan
Tentang sebuah beban yang kupikul sendiri
Tentang sebuah hari yang tak merasakan mimpi
.......
Andai itu hanya kewajibanku saja
Aku tak kecewa
Saat kau abaikan rintihanku
Andai itu bukan tanggung jawabmu juga
Aku tak terluka
Saat tak kau pedulikan
Beberapa jawaban yang masih kosong
Aku tak akan sepedih ini
Saat tak kau lihat raut wajah cemasmu
Sementara itu
Waktu kian berlalu dan habis
Dan akhirnya
Aku yang harus menjawab semua tanggungan ini
Beruntung
Sang eksekutor mau mendengarkanku
...........
Namun harusnya kau tau
Lukaku tak akan pernah hilang begitu saja
Kecewaku tak akan sirna begitu saja kemudian berlalu dan lupa
Tapi tenanglah. . .
Tak akan kuadukan kau pada Sang Sepi
Pada-Nya hanya akan kuceritakan
Tentang rasa kecewaku yang teramat dalam
Tentang kisah klasik tak berguna namun terasa menyakitkan ini

Malang, 16-10-2014 03:20

Malaikatku

Saat sunyi kurasakan, kau tak pernah datang
Tapi mengapa
Saat aku ingin sendiri, kau malah mencariku?
Sampai kapan kau tak peduli akan rasaku yang kupendam dalam diam?
Aku tak kan merintih seandainya kau bukan siapa-siapaku
Aku tak mengeluh andai kita tak saling mengenal
Namun kau adalah malaikatku
Terkadang aku sabar menghadapimu
Sangat sabar
Tapi terkadang kesabaranku habis
Kumaki kau
Namun setelah itu aku menangis dalam sesalku
Maafkan aku
Aku hanya ingin kau memahamiku
Datang dan tertawalah bersamaku saat aku merasa sunyi
Pergi dan jangan mengusikku saat aku ingin sendiri
Sudahlah
Aku tak sanggup mencacimu
Kau terlalu suci untuk kusalahkan
Selama ini, aku memang tak pernah membagi rasa padamu
Kupendam sendiri rasa bahagiaku
Kutelan sendiri rasa pedihku
Trauma
Itulah alasanku jika kau mempertanyakannya
Namun bagaimanapun
Cintaku padamu melebihi segalanya
Kecuali Tuhan
Doaku pada-Nya tentangmu selalu mengalir tiada henti
Seperti samudera yang tak kan pernah kering

Malang, 07-10-2014 17:48

Kamis, 02 Oktober 2014

Saat Sisi Sadisku Berbicara

Jangan biarkan hatimu tersakiti
Jangan teteskan airmatamu untuk semua yang tak berguna
Airmatamu terlalu mahal untuk itu
Kendalikan hatimu dengan otakmu
Kuatkan hatimu
Jangan jadikan dia lemah
Waraskanlah akal sehatmu
Bahkan jika memungkinkan
Simpan hatimu ke dalam kotak
Kunci kotak itu
Lalu sembunyikan kunci itu di otakmu
Atau
Berikan kunci itu pada Yang Maha Berkehendak
Karena Dia Maha Mengetahui segalanya
Kapan saatnya hatimu harus kau gunakan
Sadis kan???
Aku memang mengajarimu menjadi orang yang sadis
Toh itu demi kebaikanmu
Aku tak ingin hatimu terluka
Aku tak ingin melihatmu menangis
Aku tak mau kau dikalahkan oleh kegalauan semumu
Aku ingin kau menikmati hidupmu
Aku ingin kau bahagia
Menjalani takdir yang memang kau pilih sendiri
Dari seluruh takdir yang Tuhan tawarkan untukmu
Jadi,
Lukailah hatimu sebelum dilukai orang lain
Hancurkan bila perlu
Agar kelak saat orang lain datang
Sudah tak ada kesempatan untuk melukai hatimu
Yang ada tinggallah
Kesempatan untuk mengobati luka hatimu

Malang, 02-10-2014 21:00

Jangan Mengusikku, Kawan !!!

Maafkan aku kawan
Maafkan aku
Atas ketidak jujuranku
Aku memang lelah
Sangat lelah
Tapi lelahku bukan karena sibuknya ragaku
Bukan
Aku bahkan sangat menikmati sibuknya ragaku hari ini
Aku merasa lelah
Lelah menangis
Menangisi sebuah rasa yang tiba-tiba menyakitiku
Sebuah kepergian tanpa kata pamit
Menangisi rasa sunyi yang tiba-tiba menghantamku
Hingga berlinangan air mataku
Malam ini aku sengaja pergi dari peraduanku
Sangat lama meninggalkan segala pelipur lara yang kumiliki
Aku dan jiwaku berhamburan
Berlarian keluar
Melepaskan penat
Mencari tawa-tawa yang lain
Maafkan aku kawan
Semoga kau mengerti
Meski aku tahu kau tak pernah bisa memahami
Akan jalan yang kupilih
Ya, inilah aku
Inilah jalan yang harus kutempuh
Jalan yang begitu berliku
Jalan dengan jutaan kerikil tajam
Yang menunggu langkahku melewatinya
Menunggu waktunya menusuk kakiku
Kaki yang telanjang
Jadi
Jika suatu saat nanti kau melihatku menangis
Hiburlah
Jangan kau tanyakan tangisku
Jika suatu saat kau melihatku terdiam
Ajaklah tertawa
Jangan kau ungkit diamku
Ah. . .
Aku tak tahu
Akankah kau lakukan hal itu
Ataukah malah sebaliknya
Kau bersikap seolah itu bukan urusanmu
Ya. . .
Itu memang bukan urusanmu
Jadi. . .
Lakukan apa yang kau mau
Urusi sendiri urusanmu
Jangan mengusikku
!!!

Malang, 29-09-2014 21:23

Minggu, 28 September 2014

Doaku

Waktumu bersamanya telah habis
Ikhlaskan
Mungkin Tuhan hanya menghadirkan dia sementara
Untuk menemani hatimu yang sepi
Sekaligus sebagai pembanding bagi hatimu
Percayalah
Ini sementara
Hanya sekejap saja lalu berakhir
Bersabarlah dalam penantianmu
Teruslah berjalan
Meski harus tertatih
Meski kakimu telah terluka
Meski langkahmu telah pincang
Meski airmata terus meleleh
Menambah perih luka nganga batinmu
Yakinlah
Jika saatnya tiba, Tuhan pasti menyembuhkan luka itu
Yakinlah
Setelah menanti pasti akan ada yang datang
Tuhan. . .
Aku bukan seorang umat yang tak bisa bersyukur
Akan nikmat yang Kau beri
Aku tau
Inilah yang layak kuterima
Karena memang ini yang kuminta dari-Mu
Hanya pintaku
Berikan aku kekuatan
Tuk terima bayaran dari apa yang aku pilih
Berikan aku ketabahan dan keikhlasan
Dalam menjalani ujian dari jalan yang telah aku pilih

Malang, 28-09-2014 14:45

Kamis, 25 September 2014

Saat Aku Lelah

Kemana kepala ini bersandar
Saat raga ini lelah
Kemana mulut ini harus berbagi kisah
Setelah letih melewati hariku
Aku hanya butuh pendengar
Tak butuh komentator
Aku butuh penyemangat
Bukan penceramah
Apalagi pembanding
Oh, mengapa tak jua kau paham
Bukankah sudah terlalu sering kutempatkan diriku
Sebagai pendengar setia
Hanya mendengar
Tak pernah menyuarakan sepatah katapun
Tanpa kau pinta
Ya sudahlah. . .
Aku tau aku tak bisa memaksamu
Menjadi seperti yang kupinta
Dan kini. . .
Akan kucari sendiri
Sandaranku
Saat hati tak lagi mampu menyimpan semua asa dan emosi
Saat mata telah bosan menyimpan airmata
Saat jiwa tak kuasa menopang raga
Walau hingga kini tak kunjung bersua

Malang, 25-09-2014 18:05

Jumat, 05 September 2014

Ini Ceritaku

Saat kubuka mataku
Kau bersiap tuk beranjak pergi
Saat kilatan mentari terasa menyengat di rambutku
Dan aku telah larut dalam mimpiku
Engkau baru hadir
Saat bintang-bintang mulai menampakkan sinarnya
Dan aku bersiap menunjukkan rangkaian kata ini
Engkau lelah, merebahkan diri, lalu terlelap
Akhirnya. . .
Aku hanya bisa tersenyum dalam sunyi
Mencoba menghibur diri
Menjalani apa yang selalu kujalani, dengan ikhlas
Sejak aku mulai belajar merasa
Mulai belajar menyimpan apa yang kurasa
Dan aku bukanlah seorang pemberontak sadis
Karena kusadari
Semua itu kau lakukan untukku
Hanya terkadang
Pertahanan hatiku pada rasa ini runtuh
Lalu mengalirlah airmata yang ia sembunyikan

Trenggalek, 05-09-2014 07:07

Kamis, 04 September 2014

Saat Aku Terlambat Menyadari

Aku yang bodoh
Tak pernah tau arti ungkapanmu
Tak pernah mengerti bahasa kalbumu
Maaf
Jika aku terlambat menyadari
Penantianmu
Dan kesabaranmu yang ada batasnya
Untukmu kini kuceritakan
Tentang jutaan penyesalan yang tak mungkin kau terima
Tentang ribuan barel airmata yang pasti kau tertawai
Namun, biarkan airmata ini menghiburku
Saat kumengerti tentang arti pesan yang kau sengaja sematkan
Pada sebuah halaman yang dengan mudah terbaca olehku
Tapi percayalah. . .
Sampai puisi ini kutulis
Hingga kelak kau berkenan membacanya
Bahkan berkali-kali kau baca
Jiwa ini akan selalu menyayangimu

Trenggalek, 04-09-2014 19:38

Selasa, 02 September 2014

Ketika Hati Telah Sekarat

Aku pernah tetap berjalan
Mengikuti paksaan samar sang angin
Tanpa kudengar jeritan hati
Dan setelah aku di ujung jalan
Mengharap bimbingan hati
Baru kusadari, baru kutengok
Apa kabar hatiku?
Yang telah lunglai, letih menangis
Tak lagi sanggup membimbingku
Jangankan membimbing,
Mengurus lukanya yang telah membusukpun tak sanggup
Akhirnya, kuberjalan tanpa hati
Karena dia telah sekarat
Berat, sangat berat
Berjalan di jalan yang tak kutau
Jalan yang tak kumau
Sendiri, tanpa ada yang mau memahami

Trenggalek, 01-09-2014 15:20

Jumat, 29 Agustus 2014

Luka

Jika tak mampu menjadi penawar luka
Cobalah untuk tak jadi penambah luka
Biarkan aku
Dalam diamku
Merawat lukaku
Menyembunyikan di balik senyuman
Menunggunya kering
Dan hilang
Itu sama sekali tak mudah
Karena kau selalu bermain main bersama lukaku
Meski tak pernah kau sadari itu luka
Karena dia telah menyamar
Menjadi untaian dongeng yang indah
Kutau kau ingin dongeng itu menjelma nyata
Karena akupun jua
Senada seirama dengan setiap notasi pianonya
Mengamini harapanmu
Meski terdiam

Trenggalek, 29-08-2014 06:25

Kamis, 28 Agustus 2014

Saat Ignas Kleden Tak Mampu Kupahami

Wahai pelukis kata
Ijinkan aku mengerti setiap sajakmu
Biarkan kucoba pahami setiap lekuk bahasamu
Agar kumampu menerka
Apa yang tersirat pada arus fikiranmu
Ijinkan aku melumatmu
Agar setiap kata melekat di memoriku
Harus berapa kali kucumbui dirimu
Agar kau mau berbicara
Mengatakan dengan budimu yang halus
Membantuku mengurai maksudmu
Sungguh kumohon
Bisikkan sebait kode
Agar sanggup kupecahkan rahasia tabirmu
Berkenalan denganmu
Lalu kita saling mencinta
Hingga akhirnya
Kau antarkan aku ke depan pintu gerbang suksesku

Trenggalek, 28-08-2014 14:20

Rabu, 27 Agustus 2014

Move On

Dingin pagi ini begitu menusuk
Tapi aku harus bangun dan tetap berjalan
Karena sang waktu tak mungkin menunggu
Begitu pula dengan hatiku
Meski sempat berantakan berkeping-keping
Kini kucoba bangkit
Waktuku meratapi luka telah habis
Kini kucoba melangkah
Lupakan segala pahitnya memori
Meski tertatih, tapi kuterus berjalan
Karena kutau aku tak sendiri
Tuhan selalu ada untukku
Menopangku berdiri, memapahku berjalan
Melangkahlah wahai diriku
Sambutlah indahnya masa depan itu
Lepaskan jeratan bayang masa lalumu
Kutau kau mampu meraih asamu
Karena Tuhan selalu bersamamu
Percayalah, wahai diriku...

Trenggalek, 25-08-2014 06:50

Rabu, 20 Agustus 2014

Patah

Saat rindu itu tak lagi terbendung
Kucoba menyampaikan isi hati ini
Berharap kau mengerti
Berharap rindu itu kan kau sambut
Ternyata Tuhan berkata lain
Entah mengapa
Mungkin sang waktu telah berlari meninggalkanku
Cinta tak lagi ada
Semua telah berubah
Tinggal aku yang akhirnya mencoba mengerti
Dan menerima takdir-Nya
Mencoba menguasai hati
Dan meminta senyuman terakhir darimu
Saat itu aku belajar melupakanmu
Melupakan suara denting piano itu
Melupakan saat bertahun tahun bersamamu
Belajar terus berjalan tanpamu
Meski tertatih

Trenggalek, 20-08-2014 07:51

Selasa, 05 Agustus 2014

Berakhir

Aku mengerti
Dia terlalu lelah untuk bertahan
Hingga akhirnya dia menyerah
Dan pergi
Aku sadar
Kuatnya pendirianku mematahkan harapannya
Dan hari ini
Mendung mengantarkan kepergiannya
Entah mengapa hatiku terluka
Saat mendengarnya mengucap kata Selamat Tinggal
Sudahlah...
Semua telah berakhir
Semoga kata maafku mendamaikan
Akhirnya...
Aku kembali larut dalam indahnya sayatan sepi
Yang memang kuminta hadir
Untuk menemani setiap irama langkahku

Trenggalek, 05-08-2014 11:23

Minggu, 27 Juli 2014

Untitled

Biarlah aku bahagia dengan caraku, cara yang ta akan menyakiti kebahagiaanmu
Biarlah aku bahagia, dalam ingatanku
Jika ketiadaanku adalah kebahagiaanmu, biarlah aku menjadi sesuatu yang paling mudah kau lupakan dalam hidupmu
Ada yang lebih murung dari pagi ini
Ialah selarik puisi, yang tak pernah tahu, untuk apa ditulis jika menyakiti
Jika senja tak lagi mampu menyampaikan indah sinarnya
Kebahagiaan apalagi yang kan kuterima
Asa kian mendera tajam menghayati luka

Malang, 27-07-2014 08:08

( Puisi ini ditulis oleh sahabatku, Ginanjar Bagus Bekti Ibrahim. Jika ingin mengenal dia dan puisi-puisinya lebih lanjut, kunjungi Anjar di @Anjar945 )

Sabtu, 26 Juli 2014

Aku Tak Suka

Lalu pada siapa kuceritakan
Kekesalanku, kebencianku, dan semuanya yang menyedihkan?
Saat yang seharusnya mendengar membuatku sakit, malu, marah, dan kecewa
Akhirnya aku memilih untuk diam
Seraya menatap mata pohon-pohon yang menertawai
Aku tak ingin peduli
Tapi kupunya mata tuk melihat senyum sinis mereka
Punya telinga tuk mendengar bisikan sadis mereka
Dan punya hati tuk merasai tawa ejek mereka
Mencoba membiarkan tapi hati tak seirama
Akhirnya aku belajar melupakan
Argh..... Mengapa aku dilahirkan menjadi peka?
Menjadi perasa?
Kaku, kaku, kaku
Kaku ya?
Iya kaku
Maaf, aku hanya mencuapkan kekesalanku
Hingga tak sempat menebarkan syair-syair merdu
Tak sempat mengajari bahasaku menari meliuk-liuk

Trenggalek, 25-07-2014 23:25

Jumat, 25 Juli 2014

Tentang Aku

Tentang rasa dan asa
Tentangmu yang tak kutau
Tentang cinta yang tak pernah kurasa
Tentang penantian yang tak berujung
Tentang harapan yang tak sirna
Tentang doa yang tak pernah putus
Tentang sunyi yang selalu menemani
Tentang syukur yang sulit terucap
Tentang Tuhan yang selalu mengasihi
Tentang hujan yang melambungkan imaji
Tentang puisi yang menjadi saksi
Dan tentang semuanya
Tentang aku. . .

Trenggalek, 25-07-2014 02:00

Hujan Tengah Malam

Diluar dingin, sayang...
Hujan sedang turun dengan lebatnya
Lalu mengapa kau malah menggeliat bangun?
Apa yang ingin kau tau?
Bagaimana dingin menyentuh tubuhmu?
Ataukah
Bagaimana hujan membangunkan tanah yang terlelap?
Aduh, sayang...
Kutau kau membenci dingin
Tapi aku juga paham
Akan rindumu pada hujan
Jadi kubiarkan kau mengerjap
Kubiarkan sayap-sayap imajimu meliuk menari-nari
Asal kau membawa serta kesunyianmu
Dan mengenalkannya pada hujan yang berderai

Trenggalek, 25-07-2014 01:25

Terbangun di Tengah Malam

Detak jam sengaja membangunkanku
Seolah mengajariku mencumbui udara tengah malam ini
Dingin, basah, dan melambungkan imaji
Menyeretku pada fikiran yang entah
Memaksaku menggoreskan penaku
Merangkai kuncup kata
Yang datang bersama dentang yang memecah sunyi
Bersama dingin yang menggerayangi kaki
Ah, sial . . . 
Kulihat kicauan yang akhirnya membuyarkanku
Membelokkan bayangan yang tercipta
Mengembalikan sebuah rasa yang sia-sia
Lalu kini apa yang kutulis?
Saat kata-kata itu kembali menguap

Trenggalek, 24-07-2014 01:04

Saat Angin Dan Mendung Menggelisahkan

Mengapa hati ini gelisah?
Seakan membawaku pada kata yang fasih
Yang bertitel rindu
Tapi pada siapa kumerindu?
Telah kucari nama-nama itu pada nisan hatiku
Kugali bayang-bayang itu pada makam ilusiku
Kurasai satu per satu
Tapi ternyata tak satupun dari mereka
Lalu siapa lagi
Yang menyeretku pada deru rindu
Mengapa dia mengirimkan hadiah yang kusuka?
Darimana dia tau
Aku menyukai datangnya mendung dan angin?
Aih, kelihatannya Tuhan sedang mengerjaiku
Ya sudahlah Tuhan, aku pasrah
Aku percaya rencana-Mu indah bagiku

Trenggalek, 23-07-2014 12:27

Ceritaku Pada Dewi Malam


Oh Dewi Malam
Ijinkan aku menguntai kisah
Tentang rasa rindu yang tiba-tiba menyesakkan
Tapi bagaimana
Bagaimana aku memulai
Bukankah kisah tentang rindu itu telah kusemai sejak lama
Lalu apa lagi
Bagaimana lagi agar kau tak bosan
Mendengarku menjeritkan namanya
Jeritan yang hanya aku, engkau dan Tuhan yang mendengar
Aduh...
Bagaimana aku menyambungkan pantai dalam kisahku?
Pantai?
Ya, pantai
Aku ingat bagaimana kami menjadikannya kicauan mesra
Dan kini aku merindunya
Oh Dewi Malam
Pahamkah kau pada rinduku ini?

Trenggalek, 23-07-2014 00:07

Biarkan Aku

Kau menangis
Akupun menangis
Tapi tangisan itu tak sama
Air matamu mengalir karena kekejamanku
Dan kutangisi rasa yang kunikmati lukanya sendiri
Tak usah kau tahu apa yang kutangisi
Percuma saja kau tahu
Bukankah nantinya aku hanya akan kau ajarkan
Sesuatu yang telah kau pelajari?
Jadi biarkan aku
Menangis dalam diamku
Menjerit dalam laguku
Biarkan kepala ini bersandar
Dimana ia ingin bersandar
Biarkan kucari tahu sendiri
Sesuatu yang tak pernah kau rasakan
Karena ku juga tak ingin
Melukaimu dengan kekejianku

Trenggalek, 23-06-2014 22:05

Kamis, 24 Juli 2014

Maaf Telah Meminjam Namamu

Maafkan aku
Aku tak bisa lupakanmu
Aku tak bodoh
Aku hanya tak ingin
Tahukah kau?
Setelah kepergianmu
Beberapa kumbang mencoba menyentuh hatiku
Tapi ku selalu menahan rasaku untukmu
Tak perlu kau tau alasannya
Karena meski kau tau
Kau tak akan mengerti
Percayalah
Suatu hari nanti akan kulepas namamu dari hatiku
Saat Tuhan telah menghadirkan dia
Yang memang ditakdirkan untukku
Maafkan aku
Telah meminjam namamu
Dan menyimpannya di hatiku

Trenggalek, 23-06-2014 13:21

Thank's God

Untung saja hatiku sempat meragu
Ketika dia mendekatiku
Untung saja hatiku belum terjatuh
Saat dia memperhatikanku
Untung saja otakku masih waras
Kala dia menyanjungku
Karena jika tubuhku telah dipenuhi namanya
Dan aku terjatuh pada indah bahasanya
Oh...
Tak bisa kubayangkan
Betapa terlukanya aku
Jadi...
Thank's God
Telah menjaga hatiku dari serpihan cinta yang baru
 Telah menjauhkan dari durinya
Telah melarutkan dalam indahnya sayatan sepi
Meyakinkanku pada sebuah cinta yang memang Kau cipta untukku
Yang telah Kau janjikan hadirnya
Dan terimakasih karna Kau selalu menyabarkanku
Pada panjangnya penantian ini

Trenggalek, 21-06-2014 09:30

Gak Penting

Hahaha. . . . . 
Mungkin ini adalah untaian kataku yang ke-30
Yang kupatrikan pada buku yang berjasa ini
Walau sebenarnya telah kucipta puluhan puisi lain
Sayangnya hanya berlalu begitu saja
Tanpa sempat kusematkan
Dari puluhan bait itu
Kurasa ada yang aneh
Ah, mungkin karena belum datangnya kemahiran padaku
Tapi sajak-sajak yang lain
Adalah tentang rasaku
Segelintir tentang cinta
Dan sekarung tentang rasa sepi
Aku tak tahu
Apa yang terjadi jika sang pujangga membacanya
Memuji? Atau mencela?
Tapi aku tak peduli
Bagiku itu tak penting
Karena tujuanku mencipta bait demi bait itu
Hanya untuk mengobati luka sepi batinku

Trenggalek, 13-06-2014 13:00

Apa Salah Sepi

Hey...
Mengapa kau menghujat sepi
Bukankah kau yang memintanya untuk hadir
Hey...
Mengapa kau menyalahkan sepi
Bukankah dia sudah meminta izin padamu
Untuk menghujam hatimu
Dan kau mengizinkannya?
Hey...
Mengapa kau tak pernah berterimakasih pada sepi
Bukankah dia yang setia menemani kesendirianmu?
Bukankah dia yang menyelamatkan imajinasimu dari kematian?
Bukankah dia yang mengenalkanmu pada sajak dan syair?
Lalu apa salah sepi?
Mengapa selalu kau sudutkan dia?
Bagai seorang narapidana saja
Bukankah kesetiaannya belum tertandingi?
Hey...
Tak berniatkah kau meminta maaf pada sepi
Yang senantiasa meyakinkanmu akan hadirnya jodohmu suatu hari nanti?
Oh, sepi...

Trenggalek, 13-06-2014 12:21

Mimpi

Untuk sebuah nama yang selalu kutulis
Pagi ini kau hadir di mimpiku
Tak lupa kau bawa seikat merdu suaramu
Yang selalu membuatku tentram
Tapi juga menangis
Bukan menangisi pilu
Tapi menangisi rindu
Terbesit sebuah tanya untukmu
Mengapa kau menyanyikan lagu itu?
Adakah pesan untukku
Yang tersirat diantara lirik dan nadanya?
Tanya itulah yang akhirnya membangunkanku
Membuyarkan wajahmu
Menghilangkan suaramu
Ah, sudahlah
Aku hanya ingin menuliskan sepenggal lirik itu
"Terlarang sudah rinduku padamu"

Trenggalek, 11-06-2014 07:17

Curahan Laraku

Kunikmati sendiri sepiku
Kuratapi sendiri tangisku
Kurasakan sendiri lukaku
Karena...
Tak ada yang peduli
Tak ada yang mengerti
Pedih hati ini
Ah...
Bukankah terlalu sering aku menguntai kata
Tapi tetap saja
Tak ada yang memahami luka sepi ini
Karena memang hanya aku yang rasakan
Bahkan lagupun tak mampu mewakili
Hati yang dilukai rasa sepi ini
Sudah kucoba untuk membunuh sepiku
Akhirnya malah aku yang semakin terluka
Jadi kini kubiarkan saja
Biarlah sepi merajai hatiku
Aku pasrah...
Karena hanya itu yang bisa kulakukan
Diam, tidur, dan menangis
Mungkin itu konyol bagi yang awam hatiku
Hahaha...
Semoga aku tak berubah gila karena kesepian

Trenggalek, 10-06-2014 14:41

Selamat Malam

Selamat malam wahai jiwa yang lelah
Yang tetap melangkah meski ditikam rasa sepi
Yang tetap setia menunggu hadirnya cinta
Meski tak tau kapan cinta itu tiba
Tapi tetap saja 
Keyakinanmu akan hadirnya cinta tak pernah pupus
Seperti keyakinan akan hadirnya fajar di hari esok
Keyakinan yang selalu menguatkan hatimu untuk tetap melangkah di tepi jurang sepi
Semoga sang raja malam selalu menghadirkan cerita indah yang terangkai dalam mimpimu
Semoga angin malam senantiasa membisikkan tangisan rindumu pada pangeran hati
Yang bersembunyi di balik dinding takdir

Trenggalek, 24-05-2014 00:17

Belum Ada Judul

Lama sudah tak kugoreskan tinta pada selembar kertas
Lama sudah kutahankan rasa sunyiku
Memang
Beberapa waktu lamanya hatiku ditemani seorang pangeran
Tapi
Semakin lama semakin kusadari
Pangern itu tidak tercipta untukku
Tapi aku tetap menjaga hatiku agar kelak tak terluka
Akhirnya
Aku kembali tenggelam di lautan sepi
Ditemani lagu yang menyayat hati
Tapi biarlah
Tetap kujalani kesunyian ini
Seraya selalu berdoa dan tak pernah berhenti berharap
Semoga Tuhan kelak mengganti hati yang tersayat sepi ini
Dengan cinta yang lebih indah dari yang selalu kuharapkan
Amin...

Trenggalek, 19-05-2014 11:01

Mimpi

Rindu... Selayaknya buih-buih samudera Membasuh hati nan gersang Meski perih namun senantiasa terlamunkan Mengapa rindu? Mengapa tampak...